Author: admin

Dapatkah Chatbot Menggeser Interaksi Manusia?

Dapatkah Chatbot Menggeser Interaksi Manusia? – Chatbot adalah program buatan yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mensimulasikan percakapan seperti manusia. Istilah “bot” singkatan dari robot internet. Saat ini, chatbot menjadi asisten virtual yang semakin dipopulerkan dan membuat interaksi dengan teknologi semakin mudah.

Alexa, Siri, dan lainnya telah menjadi teman virtual yang mengetahui kebiasaan, rutinitas, hobi, dan minat kita. Bagi perusahaan, chatbot menjadi formula kemenangan velvetmedia.id dalam menghubungkan konsumen dengan aplikasi yang banyak digunakan.

Bot dapat memberikan kenyamanan yang lebih besar daripada aplikasi dan penelusuran web karena chatbot dapat memahami pola ucapan alami dan memberikan sentuhan pribadi dalam antarmuka pengguna yang tidak bersifat pribadi. Namun, kita harus menyadari bahwa berinteraksi dengan chatbot dapat memiliki konsekuensi psikologis yang mendalam, seperti atribusi karakteristik manusia pada komputer atau mesin.

Sebagai bagian dari perkembangan sains dan teknologi, chatbot memberikan kemudahan bagi pengguna dalam mengakses informasi dan berinteraksi dengan teknologi. Namun, kita perlu memperhatikan cara berinteraksi dengan chatbot agar tidak terjebak dalam atribusi antropomorfik yang salah.

Dalam beberapa tahun terakhir, sains dan teknologi telah mengalami kemajuan pesat dalam menghadirkan chatbot sebagai sesuatu yang lebih dekat dengan manusia. Namun, peningkatan humanisasi pada chatbot dapat memicu perubahan paradigma penting dalam bentuk interaksi manusia.

Baca juga: Membuat Inovasi Hidrogen Langsung dari Air Laut Tanpa Perlu Desalinasi

Hal ini dapat berdampak negatif pada cara kita berinteraksi dengan orang lain. Sebagai manusia, otak kita cenderung memilih penyederhanaan daripada kompleksitas. Interaksi komputer sangat cocok dengan ini karena didirikan pada premis isyarat sosial minimal atau dibatasi yang dapat diringkas dalam emotikon, tidak memerlukan banyak upaya kognitif.

Meskipun dapat memudahkan interaksi, chatbot tidak memerlukan keterlibatan emosional dan interpretasi isyarat nonverbal yang dibutuhkan oleh manusia. Interaksi berulang dengan chatbot dapat memicu pembangunan model mental baru yang akan menginformasikan interaksi ini. Ini akan dialami sebagai keadaan pikiran yang berbeda dari mana kita menafsirkan interaksi sosial.

Jika kita terbiasa dengan bentuk interaksi bot ini, akan muncul preferensi untuk ‘komunikasi yang mudah.’ Oleh karena itu, perlu ada kajian lebih lanjut terkait dampak dari peningkatan humanisasi pada chatbot terhadap interaksi manusia agar dapat menghindari dampak negatif dan menjaga keseimbangan antara teknologi dan manusia.

Membuat Inovasi Hidrogen Langsung dari Air Laut Tanpa Perlu Desalinasi

Membuat Inovasi Hidrogen Langsung dari Air Laut Tanpa Perlu Desalinasi – Sebuah inovasi terbaru dalam bidang sains dan teknologi telah muncul, yaitu cara yang lebih murah dan hemat energi untuk membuat hidrogen langsung dari air laut. Inovasi ini merupakan langkah kritis menuju industri hidrogen hijau yang benar-benar layak. Metode baru dari para peneliti RMIT University velvetmedia.id membagi air laut langsung menjadi hidrogen dan oksigen tanpa memerlukan desalinasi dan biaya terkait, konsumsi energi, dan emisi karbon.

Hidrogen telah lama disebut-sebut sebagai bahan bakar masa depan yang bersih dan solusi potensial untuk tantangan energi kritis, terutama untuk industri yang lebih sulit didekarbonisasi seperti manufaktur, penerbangan, dan perkapalan. Hampir semua hidrogen dunia saat ini berasal dari bahan bakar fosil dan produksinya menghasilkan sekitar 830 juta ton karbon dioksida per tahun, setara dengan emisi tahunan gabungan Inggris dan Indonesia.

Namun, hidrogen ‘hijau’ yang bebas emisi dan dibuat dengan memisahkan air, sangat mahal sehingga sebagian besar tidak dapat dijalankan secara komersial. Saat ini, hidrogen ‘hijau’ hanya menyumbang 1% dari total produksi hidrogen secara global. Oleh karena itu, inovasi terbaru dari para peneliti RMIT University ini sangat penting dan meningkatkan harapan bagi masa depan energi yang bersih dan ramah lingkungan.

Nasir Mahmood, peneliti utama dari RMIT, mengungkapkan bahwa proses produksi hidrogen hijau yang mahal dan bergantung pada air tawar atau desalinasi merupakan tantangan utama dalam industri ini. Namun, dengan terus mengembangkan sains dan teknologi, kita dapat menemukan solusi yang lebih efektif dan efisien untuk mengatasi tantangan ini. Inovasi ini merupakan langkah maju dalam membawa dunia menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Dalam keterangan tertulis dari Universitas RMIT, Mahmood menyatakan bahwa sains dan teknologi bisa membantu mengembangkan potensi besar hidrogen sebagai sumber energi bersih. Khususnya bagi industri yang sulit beralih ke energi terbarukan. Namun, untuk memastikan keberlanjutan hidrogen, produksi harus 100% bebas karbon dan tidak boleh menimbulkan dampak negatif pada cadangan air tawar dunia.

Metode baru yang dikembangkan oleh Mahmood untuk menghasilkan hidrogen langsung dari air laut dianggap lebih hemat biaya dibandingkan dengan pendekatan hidrogen hijau yang sudah ada di pasaran saat ini. Dengan pengembangan lebih lanjut, diharapkan metode ini dapat memajukan industri hidrogen hijau yang pesat di Australia.

Sebuah permohonan paten sementara telah diajukan untuk metode baru dalam produksi hidrogen hijau. Metode inovatif ini telah dirinci dalam studi skala laboratorium yang dipublikasikan dalam jurnal Small, terbitan Wiley. Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan pendekatan baru yang dirancang oleh tim Mahmood dalam kelompok riset multidisiplin Materials for Clean Energy and Environment (MC2E) di RMIT menggunakan jenis katalis khusus yang dikembangkan untuk bekerja secara khusus dengan air laut.

Baca juga: Sejarah Minat Hobi sampai Keilmuan Kepurbakalaan di Indonesia

Riset ini berfokus pada produksi katalis yang sangat efisien dan stabil yang dapat diproduksi dengan hemat biaya. Katalis baru ini membutuhkan sedikit energi untuk bekerja dan dapat digunakan pada suhu kamar. Dalam riset ini, para peneliti RMIT bekerja sama dengan mitra industri untuk mengembangkan aspek teknologinya.

Tahap selanjutnya dalam penelitian adalah pengembangan prototipe elektroliser yang menggabungkan serangkaian katalis untuk menghasilkan hidrogen dalam jumlah besar. Teknologi ini menjanjikan penurunan biaya elektroliser secara signifikan, cukup untuk memenuhi target Pemerintah Australia untuk produksi hidrogen hijau sebesar 2 dolar AS per kilogram, sehingga bisa bersaing dengan hidrogen yang bersumber dari bahan bakar fosil. Pendekatan yang digunakan oleh para peneliti RMIT dalam riset ini menunjukkan bahwa sains dan teknologi dapat digunakan untuk menghasilkan solusi yang lebih ramah lingkungan dengan biaya yang lebih efisien.

Sejarah Minat  Hobi sampai Keilmuan Kepurbakalaan di Indonesia

Sejarah Minat  Hobi sampai Keilmuan Kepurbakalaan di Indonesia – Perhatian terhadap peninggalan peradaban purbakala di Indonesia telah berkembang sejak abad ke-18, di mana pada saat itu ilmu pengetahuan modern mulai berkembang. Pada awalnya, bidang arkeologi hanya dianggap sebagai minat individu dan kelompok minat di dalam ilmu sosial antropologi, namun semakin berkembangnya minat untuk mengeksplorasi misteri budaya lampau membuat bidang ini semakin populer tidak hanya di Eropa, tapi juga di wilayah-wilayah kolonial termasuk Indonesia yang kala itu masih disebut Hindia Belanda.

Sejarah minat kepurbakalaan velvetmedia.id di Indonesia sudah dimulai sebelumnya oleh sejumlah ilmuwan, seperti naturalis Jerman G.E Rumphius. Kemudian, minat ini dilakukan oleh berbagai profesi di Hindia Belanda, termasuk partikelir atau pegawai pemerintah yang berkecimpung di bidang arkeologi. Namun, semasa Hindia Belanda, para ilmuwan mulai serius dengan bidang ini, dan pada tahun 1778 berdirilah lembaga bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG) yang berpusat di Batavia.

Meskipun pada awalnya arkeologi hanya dianggap sebagai minat individu, namun dengan semakin berkembangnya sains dan teknologi, bidang ini menjadi semakin penting dan menuntut keahlian yang lebih tinggi. Oleh karena itu, penting bagi para ahli arkeologi untuk terus mengikuti perkembangan sains dan teknologi agar dapat memahami peninggalan peradaban purbakala dengan lebih baik dan akurat.

BG, atau Bataviaasch Genootschap, adalah sebuah organisasi yang melakukan pengumpulan dan dokumentasi terhadap kebudayaan dan peninggalan purbakala di Nusantara. Laporan hasil dokumentasi yang dilakukan oleh BG di dalam Verdandelingen van het Bataviaasch Genootschap (VBG) melibatkan ilmuwan dan cendekia lokal pada era Politik Etis abad ke-20 awal. Meskipun kekuasaan Belanda sempat terhenti di Hindia, Inggris melanjutkannya dengan ketertarikan yang tinggi terhadap kebudayaan di Nusantara. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles yang mengedit buku the History of Java yang mendeskripsikan secara rinci tentang bangunan dan benda purbakala di Jawa. Hal tersebut menjadikan buku tersebut sebagai laporan mata-mata untuk mengenal daerah yang hendak ditaklukkan.

Pada masa kependudukan Inggris, BG diganti namanya menjadi Literary Society dan pengumpulan data tetap dilakukan hingga Inggris tidak lagi berkuasa dan kekuasaan dikembalikan ke Belanda pada 1816. Sejarah minat kepurbakalaan di Indonesia kembali dipegang oleh Belanda yang kemudian dipelopori oleh Caspar Georg Karl Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor. BG kembali aktif dengan pencatatan, dokumentasi termasuk fotografi, dan pemugaran.

Terlibatnya Theodoor van Erp adalah hal yang paling momentum dalam sejarah minat kepurbakalaan di Indonesia. Dia mempelopori kegiatan dokumentasi keberadaan purbakala Candi Borobudur pada tahun 1870-an, saat fotografi sedang populer. Di masa politik etis, dia juga dipercaya oleh pemerintah untuk memugar candi tersebut dari tahun 1907 hingga 1911.

Dalam melaksanakan tugasnya, BG menggunakan teknologi dan sains dalam dokumentasi, seperti fotografi dan pemugaran. Hal ini menunjukkan bahwa dokumentasi dan pemugaran purbakala di Indonesia tidak hanya didasarkan pada keinginan untuk mengetahui sejarah, tetapi juga melibatkan kemajuan teknologi dan sains. Dalam konteks ini, BG dapat dianggap sebagai pelopor dalam pengumpulan dan dokumentasi kebudayaan serta peninggalan purbakala di Indonesia dengan menggunakan teknologi dan sains sebagai pendukungnya.

Di antara pegiat purbakala yang aktif di Indonesia, ada satu nama yang menarik perhatian yaitu J.W. Ijzerman. Beliau bukanlah seorang arkeolog seperti kebanyakan pegiat purbakala lainnya, melainkan seorang insinyur sipil yang juga menjadi inisiator pendirian ITB. Meski begitu, Ijzerman berhasil menemukan kaki asli Candi Borobudur yang terbenam pada tahun 1885 ketika sedang berada di Yogyakarta bersama dengan perkumpulan arkeolog bernama Archeologische Vereniging (AV). Keterlibatan Ijzerman dalam dunia arkeologi ini menunjukkan bahwa sains dan teknologi juga dapat berperan penting dalam bidang kepurbakalaan.

Selain itu, AV yang dipimpin oleh Ijzerman juga pernah melibatkan fotografer terkenal Indonesia, Kassian Cephas, dalam proses dokumentasi temuan-temuan mereka, termasuk relief di Candi Borobudur. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara berbagai disiplin ilmu, seperti arkeologi, sains, dan teknologi, dapat menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi dunia kepurbakalaan.

Di Indonesia, minat terhadap kepurbakalaan semakin berkembang seiring dengan waktu. Pada tanggal 14 Juni 1913, BG, salah satu tokoh kepurbakalaan di Indonesia, memimpin inisiatif pendirian Oudheidkundige Dienst (OD) yang berfungsi mengurus hal kepurbakalaan di Jawa dan Madura. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Purbakala Nasional di Indonesia. Kepemimpinan Nicholas Johannes Krom, seorang orientalis, epigraf, arkeolog, sejarawan, dan ahli budaya Indonesia, sebagai ketua OD menunjukkan bahwa kepurbakalaan di Indonesia tidak hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang dari luar negeri, melainkan juga oleh orang-orang lokal yang memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang sains, teknologi, dan sejarah.

Dalam era yang semakin berkembang dan teknologi yang semakin maju, semakin penting bagi dunia kepurbakalaan untuk membuka diri terhadap berbagai disiplin ilmu, termasuk sains dan teknologi. Dengan demikian, diharapkan bahwa kepurbakalaan di Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang positif bagi bangsa dan negara.

Posisi Oudheidkundige Dienst in Indonesie (ODI) sangat kuat dalam pengaturan kebijakan konservasi peninggalan purbakala dan kehidupan budaya masyarakat lokal. Melalui kegiatan sains dan teknologi, ODI berupaya untuk memengaruhi pengambilan keputusan dalam pelestarian warisan budaya di seluruh Nusantara. Meski pernah mengalami vakum ketika Jepang menginvasi Hindia Belanda pada tahun 1942, ODI terus berjuang untuk mengembangkan aktivitasnya pasca kemerdekaan Indonesia.

Sebagai lembaga yang kompeten di bidang kepurbakalaan, ODI telah mengalami beberapa perubahan di masa lalu. Pemerintah kolonial sempat menghidupkan kembali ODI pada tahun 1945 setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, namun kini lembaga tersebut telah berganti nama menjadi Oudheidkundige Dienst in Indonesie (ODI). Para ilmuwan terus aktif mendokumentasikan pelbagai peninggalan cagar purbakala secara verbal, visual, video, dan piktorial dengan memanfaatkan sains dan teknologi terkini.

ODI juga telah bekerja sama dengan Djawatan Urusan Barang-Barang Purbakala dalam menjaga kelestarian warisan budaya. Banyak mantan pekerja dinas ODI turut membantu Djawatan Urusan Barang-barang Purbakala ini karena khawatir akan rusak dan hilang kalau tidak dilakukan perlindungan. Dalam era teknologi modern seperti sekarang, ODI terus berinovasi dan mengembangkan metode pelestarian warisan budaya dengan memanfaatkan sains dan teknologi. Hal ini membuktikan bahwa ODI tetap menjadi lembaga yang kuat dalam pengaturan kebijakan konservasi peninggalan purbakala dan kehidupan budaya masyarakat lokal.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1949, Dinas Purbakala dibentuk sebagai pengganti Djawatan Purbakala dan ODI yang sebelumnya diakui oleh pemerintah Belanda. Sejarah minat kepurbakalaan di Indonesia menunjukkan bahwa dinas ini berada di bawah naungan Kementerian Pengadjaran, Pendidikan, dan Kebudajaan pada tahun 1951, dengan R. Soekmono sebagai ketuanya. Soekmono adalah sarjana arkeologi pertama di Indonesia yang berhasil memugar kembali candi Borobudur pada tahun 1973 sampai 1983. Referensi pemugaran ini berasal dari dokumentasi pemugaran pertama oleh Theodoor van Erp.

Dinas Purbakala kemudian berubah nama menjadi Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN) pada tahun 1964. Pada masa ini, pekerjaan LPPN meluas hingga membuka kantor cabang di luar Jawa. Pekerjaan LPPN adalah perlindungan dan pemugaran dengan cara yang lebih terstruktur, di bawah Direktorat Kebudajaan. Di dalamnya, dibagi antara pekerjaan masa prasejarah dan klasik (Hindu-Buddha).

Baca juga: Selain Jaringan Komunikasi 4G dan 5G, Kini Ilmuwan Kembangkan 6G

Transformasi dan pelestarian purbakala di Indonesia terus dilakukan oleh dinas ini hingga saat ini. Berbagai kebijakan memengaruhi aktivitas mereka, yang terkadang menghambat atau memperlancar pekerjaan. Selain lewat kedinasan dan direktorat, organisasi kepurbakalaan di Indonesia juga berkembang dan selalu didukung oleh undang-undang. Undang-undang tersebut meliputi Monumenten Ordonantie 1931 Stadblad 238 dari masa Hindia Belanda, UU No.5 tahun 1992 tentang Cagar Budaya, hingga yang baru-baru ini dalam UU No.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Pentingnya pelestarian purbakala di Indonesia memang tidak dapat diragukan lagi. Namun, selain melalui pekerjaan manual, sains dan teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk mempercepat dan mempermudah pekerjaan di bidang ini. Oleh karena itu, peran sains dan teknologi dalam kegiatan pelestarian purbakala di Indonesia harus terus dikembangkan dan ditingkatkan. Dengan begitu, pelestarian dan pengembangan warisan budaya Indonesia dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan efisien.

Selain Jaringan Komunikasi 4G dan 5G, Kini Ilmuwan Kembangkan 6G

Selain Jaringan Komunikasi 4G dan 5G, Kini Ilmuwan Kembangkan 6G – Sebuah tim peneliti di City University of Hong Kong (CityU) di bawah pimpinan seorang ilmuwan telah berhasil mengembangkan antena baru yang dapat memanipulasi arah, frekuensi, dan amplitudo pancaran sinar.

Temuan ini diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam integrasi penginderaan dan komunikasi (ISAC) untuk komunikasi nirkabel generasi ke-6 (6G). Dalam bidang sains dan teknologi, struktur dan karakteristik antena tradisional tidak dapat diubah setelah dibuat. Namun, antena metasurface space-time-coding (STC) sideband-free memiliki keunikan dalam hal pengkodean ruang-waktu (mis. kontrol perangkat lunak) sehingga memungkinkan penggunanya memiliki fleksibilitas yang luar biasa.

Artikel tentang temuan ini telah dipublikasikan di jurnal Nature Electronics pada 3 November dengan judul “Sideband-free space–time-coding metasurface antennas.”

Keunikan dari fitur inovatif velvetmedia.id ini terletak pada kemampuan respons permukaan meta (bahan buatan, lembaran tipis dengan ketebalan sub-panjang gelombang dan terbuat dari beberapa meta-atom sub-panjang gelombang) yang dapat diubah dengan mengalihkan meta-atom pada permukaannya antara memancar dan keadaan non-radiasi.

Hal ini memudahkan antena metasurface STC untuk mewujudkan manipulasi gelombang yang rumit dalam domain ru

Profesor Chan Chi-hou, Penjabat Rektor dan Ketua Profesor Teknik Elektronik di Departemen Teknik Elektro di CityU, telah melakukan penelitian yang menghasilkan perkembangan teknologi dalam bidang antena. Dalam penelitiannya, beliau menyoroti bahwa antena bergantung pada kombinasi sukses dari dua kemajuan penelitian, yaitu antena gelombang bocor modulasi amplitudo (AM) dan teknik pengkodean ruang-waktu.

Dr Wu Gengbo, postdoctoral fellow di State Key Laboratory of Terahertz and Millimeter Waves (SKLTMW) di CityU, juga telah memberikan kontribusi dengan mengusulkan konsep baru antena gelombang bocor AM pada tahun 2020 dalam studi PhD-nya di CityU.

Menurut Dr Wu, konsep baru ini memberikan pendekatan analitik untuk mensintesis antena dengan pola radiasi yang diinginkan untuk penggunaan khusus yang berbeda hanya dengan mengubah bentuk dan struktur antena. Namun, karakteristik radiasi antena gelombang bocor AM tetap setelah dibuat.

Oleh karena itu, Dr Dai Junyan dari Universitas Tenggara di Nanjing, China, yang memelopori teknologi STC, bergabung dengan kelompok Profesor Chan di CityU. Dengan adanya kemajuan dalam sains dan teknologi ini, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai bidang di masa depan.

“Keahlian Dr Dai dalam pengkodean ruang-waktu dan metasurfaces digital untuk mengonfigurasi ulang kinerja antena secara dinamis merupakan perkembangan penting dalam bidang sains dan teknologi. Hal ini menambah dimensi baru bagi penelitian antena di SKLTMW,” ujar Profesor Chan, selaku Direktur SKLTMW di CityU.

Terlebih lagi, modulasi waktu gelombang elektromagnetik pada metasurfaces sering kali menghasilkan frekuensi harmonik yang tidak diinginkan, yang disebut sidebands. Sidebands ini dapat mempengaruhi saluran komunikasi antena yang berguna dan menyebabkan “polusi spektrum”.

Namun, Profesor Chan dan timnya berhasil mengusulkan desain baru yang menggunakan pandu gelombang, sehingga dapat menekan harmonik yang tidak diinginkan dan mencapai pancaran direktivitas tinggi.

Dengan demikian, desain baru ini memungkinkan komunikasi yang aman dan menjadi terobosan dalam bidang sains dan teknologi.”

“Melalui penggunaan antena gelombang bocor AM dan teknologi pengkodean ruang-waktu, kami berhasil mencapai karakteristik radiasi yang ditentukan dengan mengontrol rangkaian on-off dan durasi ‘sakelar’ pada antena melalui perangkat lunak,” ungkap Profesor Chan.

Baca juga: Dongeng Anak Jalan di Atas Duri Berbahasa Indonesia di Aplikasi Pickatal

“Dengan adanya antena baru yang menghasilkan pancaran sinar dengan direktivitas tinggi, kinerja radiasi yang beragam dapat dicapai tanpa harus mendesain ulang antena, kecuali hanya dengan menggunakan input STC yang berbeda,” tambah Dr Wu.

Melalui pancaran antena metasurface STC, energi dapat difokuskan ke titik fokus dengan panjang fokus tetap atau bervariasi, sehingga dapat digunakan untuk pencitraan real-time dan sebagai jenis radar untuk memindai lingkungan dan data umpan balik.

“Penemuan ini memainkan peran penting dalam sains dan teknologi untuk komunikasi nirkabel 6G,” jelas Profesor Chan. “Misalnya, sinar yang dipancarkan dapat digunakan untuk memindai seseorang dan membuat gambar orang tersebut, memungkinkan pengguna ponsel untuk berbicara satu sama lain dengan pencitraan hologram 3D. Selain itu, teknologi ini juga lebih baik dalam mengatasi penyadapan daripada arsitektur pemancar konvensional.”

Dongeng Anak Jalan di Atas Duri Berbahasa Indonesia di Aplikasi Pickatal

Dongeng Anak Jalan di Atas Duri Berbahasa Indonesia di Aplikasi Pickatal – Apakah Anda seorang pecinta dongeng dan literasi? Jika iya, maka Anda pasti akan sangat terpikat dengan salah satu kisah dongeng terbaik dalam bahasa Indonesia yang ada di dalam aplikasi Pickatale. Namun, sebelum membahas lebih lanjut tentang dongeng tersebut, mari kita bahas terlebih dahulu tentang apa itu Pickatale.

Pickatale adalah sebuah aplikasi yang menyediakan berbagai macam jenis bacaan dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berbagai jenis bacaan yang tersedia di sini tidak hanya terbatas pada dongeng dan fiksi, namun juga meliputi bacaan velvetmedia.id tentang sains, teknologi, sejarah, biografi, dan masih banyak lagi.

Selain berbagai jenis bacaan yang tersedia, di dalam aplikasi Pickatale juga terdapat berbagai macam bahasa, seperti bahasa Inggris, Denmark, Norwegia, dan tentu saja bahasa Indonesia. Salah satu dongeng terbaik berbahasa Indonesia yang bisa Anda temukan di sini adalah Jalan di Atas Duri karya Vanda Parengkuan.

Kisah ini mengisahkan tentang seorang liliput bernama Uwet yang ingin mengambil buah ceri dari sebuah pohon. Namun, di batang pohon terdapat banyak duri. Saat sedang mencari cara untuk mengambil buah ceri tersebut, Uwet melihat sebuah siput di dahan pohon yang bisa berjalan di atas batang pohon tersebut tanpa terluka.

Pertanyaannya adalah, mengapa Uwet bisa tertusuk duri namun siput bisa berjalan di atas batang pohon yang berduri tersebut tanpa terluka? Jawabannya mungkin bisa ditemukan melalui pengetahuan sains dan teknologi yang tersedia di dalam aplikasi Pickatale. Dalam aplikasi ini, Anda bisa menemukan berbagai jenis bacaan tentang sains dan teknologi yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan Anda.

Dengan demikian, mari bergabung bersama dengan jutaan pengguna aplikasi Pickatale di seluruh dunia untuk menikmati berbagai jenis bacaan yang bermanfaat dan mendidik. Dapatkan akses ke berbagai macam kisah menarik, termasuk dongeng terbaik dalam bahasa Indonesia, dan kembangkan pengetahuan serta wawasan Anda tentang sains dan teknologi.

Ketika Uwet sedang berusaha memetik buah ceri, dua liliput lain, Enjin dan Ensi, datang menanyakan aktivitasnya. Setelah mendengar ceritanya, Ensi memberikan penjelasan bahwa manusia berbeda dengan siput. Ternyata, siput dapat berjalan di atas duri karena memiliki rahasia yang terkait dengan sains dan teknologi.

Kita dapat mempelajari lebih lanjut mengenai rahasia tersebut untuk meningkatkan pengetahuan kita dalam sains dan teknologi. Namun, pertanyaannya adalah, apakah Uwet berhasil memetik buah ceri akhirnya?

Baca juga: Pengetahuan Menembus Kecepatan Cahaya

Temukan dongeng menarik berbahasa Indonesia dan pengetahuan sains yang menarik di aplikasi Pickatale! Selain Jalan di Atas Duri, kamu bisa menikmati cerita-cerita lain seperti Semut-Semut Penolong, Tersesat, Tanaman Pemakan Serangga, Laba-Laba Sakti, Liliput Pohon: Katak, Minyak Rambut, dan Makhluk Aneh.

Kamu juga akan mendapatkan pengetahuan sains dan teknologi yang menarik melalui dongeng-dongeng ini. Selain itu, kamu bisa menikmati ilustrasi yang menarik dan fitur audiobook untuk mendengarkan dongeng sambil menikmati ilustrasi.

Cara mengunduh dan menggunakan aplikasi Pickatale pun sangat mudah. Yuk, segera download aplikasi ini di PlayStore atau Apple Store dan nikmati pembelajaran yang menyenangkan bersama Pickatale!

Pengetahuan Menembus Kecepatan Cahaya

Pengetahuan Menembus Kecepatan Cahaya – Jika kita mengendarai mobil tercepat di dunia atau menaiki kereta dengan kecepatan tinggi, pemandangan di luar jendela akan terlihat kabur dan bergerak dengan cepat. Fenomena ini disebabkan oleh sains dan teknologi yang terlibat dalam pembuatan kendaraan tersebut. Semakin cepat kendaraan bergerak, semakin sulit pula bagi mata untuk menangkap gambaran yang jelas dari pemandangan di luar jendela.

Hal ini juga berlaku dalam memotret dengan kamera. Ketika shutter diatur rendah, objek yang bergerak dekat dengan kamera akan tampak kabur. Hanya cahaya yang dapat ditangkap oleh kamera, bukan objek tersebut.

Namun, jika kita membayangkan bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya, ini adalah teori fisika velvetmedia.id yang dicetuskan oleh fisikawan Albert Einstein. Menurutnya, secara teori, kita tidak bisa bergerak lebih cepat daripadanya. Hal ini membuktikan betapa pentingnya sains dan teknologi dalam membatasi dan memahami batas-batas kemampuan manusia dan alam semesta.

Dalam dunia yang semakin maju ini, sains dan teknologi menjadi kunci utama untuk mengembangkan kemampuan manusia dan meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu, kita perlu terus mempelajari, memahami, dan mengaplikasikan mereka secara bijaksana dan profesional.

Pendapat yang mengatakan bahwa tak ada yang bisa bergerak lebih cepat daripada cahaya telah ditegaskan oleh fisikawan teoritis terkenal, Stephen Hawking, melalui bukunya yang berjudul Sejarah Singkat Waktu (A Brief History of Time). Dalam bukunya, Hawking menjelaskan bahwa teori relativitas khusus juga memberikan pemahaman bahwa gerakan lebih cepat dari cahaya tidaklah mungkin terjadi.

Dalam gambaran kerucut waktu, ruang, dan cahaya yang ia buat, Hawking menekankan bahwa hanya di dalam kerucut cahaya, manusia dapat bergerak untuk kecepatan waktu. Meskipun semakin besar kecepatan yang kita buat, jangkauan ruang yang dapat dijangkau akan semakin luas, namun kita tetap tidak bisa melampaui kecepatan cahaya. Hawking menulis bahwa jalur benda apa pun melalui ruang dan waktu harus diwakili oleh garis yang berada di dalam kerucut cahaya pada tiap peristiwa.

Dalam konteks sains dan teknologi, pemahaman tentang kecepatan cahaya ini sangatlah penting untuk pengembangan teknologi dan penemuan-penemuan baru di bidang sains. Hal ini memberikan batasan dan pemahaman dalam pembuatan teknologi-teknologi baru yang dapat digunakan oleh manusia. Oleh karena itu, pemahaman tentang teori relativitas khusus dan kecepatan cahaya ini sangatlah penting untuk diketahui dan dipahami oleh masyarakat luas.

Jika suatu materi dipaksa untuk melewati kecepatan cahaya, ini dapat menimbulkan kesalahan fisika. Menurut Stephen Hawking, ruang dan waktu tidak memiliki aturan seperti kecepatan cahaya. Hal ini disebabkan oleh jangkauan jauh semesta raya yang terbentang jauh lebih cepat dari yang dapat diharapkan untuk disamakan. Namun, pandangan ini masih dalam bentuk teori dan mungkin akan dipecahkan oleh kajian ilmiah fisika di masa mendatang.

Untuk menghasilkan kecepatan yang melebihi cahaya, diperlukan daya atau energi yang lebih besar. Sebagai analogi, untuk berlari kencang dalam lomba balap lari, pelari harus mengumpulkan daya di tumpuan start dan energi yang dikumpulkan berasal dari makanan yang mereka makan. Oleh karena itu, energi dan daya ini harus dipertimbangkan dalam upaya untuk menembus kecepatan cahaya.

Dalam sains dan teknologi, penelitian terus dilakukan untuk memahami dan menguji batasan-batasan fisika ini. Dengan kemajuan teknologi yang ada, mungkin suatu saat nanti kita dapat menemukan cara untuk mencapai kecepatan yang lebih besar dari cahaya. Namun, ini tetap menjadi tantangan besar bagi para ilmuwan dan insinyur di masa depan.

Pada tahun 2021, seorang fisikawan dari Universitas Göttingen, Erik Lentz, mengusulkan hipotesis yang dapat membantu melampaui kecepatan cahaya di masa depan. Lentz menemukan bahwa kelas tinggi soliton berkecepatan tinggi (hyper-class soliton) dapat menjadi cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut. Soliton adalah gelombang dalam ilmu fisika dan matematika yang dapat mempertahankan bentuk dan energi sambil bergerak dengan cahaya konstan, dan konsep ini sudah ditemukan oleh John Scott Russell pada tahun 1844.

Dalam teorinya, Lentz menunjukkan bahwa jika soliton memiliki energi yang cukup, maka dapat berfungsi sebagai ‘gelembung warp’ yang mampu bergerak secara superluminal. Ini berarti bahwa secara teori, objek dapat melintasi ruang dan waktu dalam lindungan dari kekuatan pasang-surut ekstrim. Namun, untuk mencapai hal ini, energi yang dibutuhkan sangat besar, bahkan mencapai ratusan kali massa planet Jupiter.

Dalam rangka mencapai tujuan ini, Lentz menyarankan agar teknologi harus ditingkatkan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Penghematan energi perlu dilakukan dengan drastis, bahkan 30 urutan besarnya dalam jangkauan reaktor fisi nuklir modern. Oleh karena itu, sains dan teknologi harus bekerja sama untuk menciptakan kemajuan yang signifikan dalam bidang ini.

Dengan pendekatan profesional dan penggunaan kata kunci yang relevan dalam konten, kita dapat memastikan bahwa informasi yang disampaikan terdengar serius dan dapat dipercaya. Dalam hal ini, Lentz menawarkan hipotesis yang menarik dan dapat membuka jalan menuju kemajuan dalam sains dan teknologi di masa depan.

Pada Desember 2022, jurnal Classical and Quantum Gravity menerbitkan sebuah penelitian berjudul “Relativity of superluminal observers in 1+3 spacetime” yang mengungkapkan perspektif baru mengenai kecepatan cahaya. Penelitian ini menghasilkan “perpanjangan relativitas khusus” yang menggabungkan tiga dimensi waktu dengan satu dimensi ruang, disebut dengan 1+3 ruang-waktu. Hal ini bertolak belakang dengan pemahaman kita selama ini mengenai tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu.

Studi ini memberikan bukti tambahan bahwa objek mungkin bisa bergerak lebih cepat dari cahaya tanpa melanggar hukum fisika yang kita kenal hari ini. Penulis pertama studi, Andrzej Dragan dari University of Warsaw di Polandia, menyatakan bahwa tidak ada alasan mendasar mengapa pengamat yang bergerak dengan kecepatan lebih besar dari kecepatan cahaya tidak boleh tunduk padanya.

Penemuan ini menjadi bukti kemajuan teknologi dan sains dalam menjelajahi ruang-waktu dan mengembangkan pemahaman baru mengenai pergerakan objek di alam semesta. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi penting dalam pengembangan teknologi dan sains di masa depan.

Penelitian ini mengembangkan pandangan sains dan teknologi terkait perspektif superluminal yang dapat membantu menjembatani mekanika kuantum dengan teori relativitas khusus Einstein. Superluminal adalah gerakan yang terlihat lebih cepat dari cahaya, dimana setiap objek dengan kecepatan seperti ini dapat dikaitkan dengan lubang hitam yang berfungsi sebagai pengeluaran massa dengan kecepatan tinggi.

Dalam kerangka pemikiran ini, partikel tidak lagi dimodelkan sebagai objek mirip titik, namun dilihat sebagai jenis teori medan yang mendukung fisika kuantum. Hal ini membuka peluang besar dalam ilmu sains dan teknologi untuk memahami perilaku partikel superluminal dan mengeksplorasi lebih lanjut potensi penggunaannya.

Baca juga: Teknologi Tenaga Surya Luar Angkasa Diluncurkan ke Orbit Uji In-Situ

“Definisi baru ini membuktikan kebenaran dalil Einstein tentang kecepatan cahaya yang tetap dalam ruang hampa bahkan dihadapan pengamat superluminal,” jelas Dragan dengan profesional. “Namun, perubahan ke model ruang-waktu 1+3 ini menghadirkan tantangan baru. Diperlukan perluasan teori relativitas khusus untuk menggabungkan kerangka acuan yang lebih cepat dari cahaya, dan hal ini mungkin melibatkan peminjaman konsep dan teori dari sains dan teknologi lain, seperti teori medan kuantum dan klasik.”

Ia juga menambahkan, “Bagi pengamat superluminal, konsep partikel titik klasik Newtonian tidak berlaku lagi, dan medan menjadi satu-satunya besaran yang dapat menggambarkan dunia fisik.”

Dalam hal ini, perluasan teori relativitas khusus menjadi sebuah tantangan bagi para ahli sains dan teknologi, namun dengan pemanfaatan konsep-konsep dari bidang lain, maka dapat membantu memperluas pemahaman kita tentang dunia fisik.

 Teknologi Tenaga Surya Luar Angkasa Diluncurkan ke Orbit Uji In-Situ

 Teknologi Tenaga Surya Luar Angkasa Diluncurkan ke Orbit Uji In-Situ – Proyek Caltech Space Solar Power (SSPP) baru-baru ini meluncurkan prototipe ke orbit, bernama Space Solar Power Demonstrator (SSPD), untuk menguji beberapa komponen kunci dari rencana mereka untuk memanfaatkan tenaga surya di luar angkasa.

Pemanenan tenaga surya di luar angkasa dapat menjadi solusi untuk memanfaatkan energi matahari yang hampir tak terbatas di luar angkasa, di mana energi selalu tersedia tanpa siklus siang dan malam, musim, dan tutupan awan. Peluncuran Misi Transporter-6 pada 3 Januari 2023 merupakan tonggak penting dalam proyek ini.

Ketika selesai, SSPP akan menggunakan konstelasi pesawat ruang angkasa modular untuk mengumpulkan sinar matahari, mengubahnya menjadi listrik, lalu mengirimkan listrik tersebut secara nirkabel ke tempat yang membutuhkan, termasuk tempat-tempat yang saat ini tidak memiliki akses ke sumber daya listrik yang andal.

Pesawat ruang angkasa Momentus Vigoride yang dibawa oleh roket SpaceX membawa SSPD seberat 50 kilogram ke luar angkasa. Ini terdiri dari tiga eksperimen utama, masing-masing bertugas menguji teknologi kunci yang berbeda. Proyek ini menunjukkan perkembangan sains dan teknologi velvetmedia.id yang luar biasa dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di luar angkasa.

Dalam bidang sains dan teknologi, terdapat beberapa proyek yang menarik untuk diamati. Salah satunya adalah proyek DOLCE (Deployable on-Orbit ultraLight Composite Experiment), yang merupakan struktur berukuran 1,8 meter kali 1,8 meter yang mendemonstrasikan arsitektur, skema pengemasan, dan mekanisme penerapan pesawat ruang angkasa modular. Proyek ini bertujuan membentuk konstelasi skala kilometer sebagai pembangkit listrik di masa depan.

Selain itu, terdapat juga proyek ALBA yang terdiri dari kumpulan 32 jenis sel fotovoltaik (PV) yang berbeda. Proyek ini bertujuan untuk memungkinkan penilaian jenis sel yang paling efektif di lingkungan ruang angkasa yang keras.

Sementara itu, proyek MAPLE (Microwave Array for Power-transfer Low-orbit Experiment) merupakan susunan pemancar daya gelombang mikro ringan yang fleksibel dengan kontrol waktu yang tepat memfokuskan daya secara selektif pada dua penerima yang berbeda. Tujuan dari proyek ini adalah untuk mendemonstrasikan transmisi daya nirkabel pada jarak jauh di ruang angkasa.

Dengan adanya proyek-proyek ini, dapat diharapkan bahwa sains dan teknologi akan terus berkembang dan memberikan manfaat yang besar bagi manusia. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mendukung dan memantau perkembangan di bidang ini.

Salah satu proyek penelitian yang didanai oleh dermawan Donald Bren dan istrinya, Brigitte Bren, adalah proyek SSPD (Space Solar Power Demonstrations). Proyek ini dimulai pada tahun 2013 dan bertujuan untuk memanfaatkan energi matahari yang dihasilkan di luar angkasa. Komponen keempat tambahan SSPD adalah kotak elektronik yang berinteraksi dengan komputer Vigoride dan mengontrol tiga percobaan.

Penelitian ini memiliki potensi untuk mengatasi beberapa tantangan mendesak umat manusia, seperti masalah energi dan lingkungan. Proyek ini juga menunjukkan kolaborasi antara sains dan teknologi dalam menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi manusia. Berkat dukungan dermawan seperti Donald dan Brigitte Bren, para ilmuwan Caltech yang brilian dapat terus melanjutkan proyek-proyek penelitian yang memiliki dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.

Roket akan membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk mencapai ketinggian yang diinginkan. Kemudian, pesawat ruang angkasa Momentus akan dipindahkan ke orbit. Tim Caltech di Bumi berencana untuk segera menjalankan eksperimen mereka pada SSPD dalam beberapa minggu setelah peluncuran.

Beberapa tes akan dijalankan dengan cepat. “Kami akan segera memerintahkan pengerahan DOLCE dalam beberapa hari setelah mendapatkan akses ke SSPD dari Momentus. Kami harus segera mengetahui apakah DOLCE berfungsi,” kata Sergio Pellegrino, Profesor Kedirgantaraan Caltech dan Kent Kresa serta Profesor Teknik Sipil dan co-director dari SSPP.

Baca juga: Robot ini Bisa Mencair dan Memadat Kembali, Seperti Terminator!

Pellegrino juga merupakan ilmuwan riset senior di JPL, yang dikelola Caltech untuk NASA. “Kami berulang kali meminta nasihat rekan-rekan di JPL dan industri luar angkasa California Selatan tentang desain dan prosedur pengujian yang digunakan untuk mengembangkan misi yang berhasil.

Kami mencoba mengurangi risiko kegagalan, meskipun pengembangan teknologi yang sama sekali baru pada dasarnya merupakan proses yang berisiko,” kata Pellegrino. Tujuan akhir dari SSPP adalah untuk menghasilkan pasokan global energi yang terjangkau, terbarukan, dan bersih dengan menggunakan sains dan teknologi terbaru.

 Mengubah Karbon Dioksida Menjadi Molekul yang Berguna Elektrokimia

 Mengubah Karbon Dioksida Menjadi Molekul yang Berguna Elektrokimia – Kolaborasi antara sains dan teknologi telah menghasilkan terobosan yang kreatif dalam memanfaatkan karbon dioksida dengan baik dan sehat. Melalui elektrosintesis, karbon dioksida dapat digabungkan ke dalam molekul organik yang penting untuk pengembangan farmasi. Sebuah tim peneliti velvetmedia.id telah membuat penemuan inovatif dengan mengubah jenis reaktor elektrokimia yang menghasilkan dua produk yang sangat berguna dalam kimia medisinal.

Temuan ini telah dipublikasikan di jurnal Nature pada 5 Januari dengan judul makalah “Electrochemical reactor dictates site selectivity in N-heteroarene carboxylations.” Rekan penulis makalah ini adalah peneliti postdoctoral Peng Yu dan Wen Zhang, serta Guo-Quan Sun dari Universitas Sichuan di China. Ini adalah contoh kolaborasi sains dan teknologi yang sangat menjanjikan dalam pengembangan farmasi yang lebih baik.

Tim Cornell yang dipimpin oleh Song Lin, seorang profesor kimia dan biologi kimia di Sekolah Tinggi Seni dan Sains, telah mencapai terobosan dalam penggunaan teknologi elektrokimia untuk penggabungan molekul karbon. Proses ini memungkinkan pembentukan senyawa kompleks tanpa perlu menggunakan logam mulia atau katalis lainnya sebagai penggerak reaksi kimia.

Dalam proyek terbarunya, tim Cornell berfokus pada senyawa organik heterosiklus piridin, yang merupakan senyawa paling umum dalam obat-obatan yang telah disetujui oleh FDA. Dalam sains farmasi, heterosiklus dianggap sebagai “farmakofor” karena sering hadir dalam senyawa aktif lingkungan obat.

Mereka ingin membuat piridin terkarboksilasi, yaitu memperkenalkan karbon dioksida ke dalam cincin piridin. Diharapkan bahwa dengan menambahkan karbon dioksida ke dalam cincin piridin, akan memungkinkan untuk mengubah fungsi molekul dan dapat membantu mengikat target tertentu, seperti protein. Namun, piridin dan karbon dioksida bukanlah pasangan alami, karena piridin bersifat reaktif sedangkan karbon dioksida umumnya lembam.

Dalam era teknologi yang maju seperti sekarang, pengembangan sains dan teknologi sangatlah penting. Tim Cornell berhasil menunjukkan potensi teknologi elektrokimia dalam membuat senyawa kompleks yang kompleks dan berpotensi menghasilkan obat-obatan baru yang lebih efektif dan efisien.

Menurut Lin, seorang penulis senior bersama dengan Da-Gang Yu dari Universitas Sichuan, pengenalan karbon dioksida ke piridin memiliki keterbatasan yang sangat parah dan sulit diimplementasikan. Namun, Laboratorium Lin telah berhasil mengatasi masalah ini dengan menggabungkan keahlian dalam elektrokimia dengan spesialisasi kelompok Yu dalam memanfaatkan karbon dioksida dalam sintesis organik.

Melalui metode elektrokimia, mereka berhasil membuat piridin terkarboksilasi dengan daya ungkit yang cukup untuk mengaktifkan bahkan beberapa molekul yang paling lembam. Hal ini menunjukkan betapa teknologi dan sains dapat bekerja sama untuk menciptakan solusi baru dalam bidang kimia organik.

Penemuan ini merupakan hasil elektrosintesis yang dilakukan oleh tim kimiawan yang menjalankan reaksi elektrokimia dalam salah satu dari dua cara: dalam sel elektrokimia yang tidak terbagi atau dalam sel elektrokimia yang terbagi. Kedua pendekatan ini menghasilkan produk yang sama, namun satu pendekatan mungkin lebih efisien daripada yang lain.

Dengan adanya inovasi teknologi dan sains seperti ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan di berbagai bidang, termasuk dalam kimia organik.

Baca juga: Robot ini Bisa Mencair dan Memadat Kembali, Seperti Terminator!

Kelompok Lin melakukan penelitian dan menemukan bahwa dengan menggunakan teknologi yang disebut “reaktor elektrokimia”, mereka dapat secara selektif menempelkan molekul karbon dioksida pada posisi cincin piridin yang berbeda. Temuan ini sangat penting dalam bidang sains dan teknologi, karena dapat membuka jalan untuk membuat molekul lain dengan cara yang selektif namun terkontrol.

Meskipun proyek ini tidak akan menyelesaikan tantangan global perubahan iklim, namun ini adalah langkah kecil menuju penggunaan karbon dioksida yang berlebihan dengan cara yang bermanfaat. Dalam jangka panjang, pemahaman mekanistik tentang mengapa hal itu terjadi akan memungkinkan kita untuk terus menerapkan strategi yang sama pada molekul lain, bukan hanya piridin.

Sebagai ilmuwan dan peneliti, kami percaya bahwa temuan ini akan membantu menghasilkan teknologi baru yang dapat mengatasi masalah global seperti perubahan iklim. Dengan terus berinovasi dan memperdalam pemahaman kita tentang sains dan teknologi, kita dapat menciptakan solusi yang lebih baik untuk masa depan.

Robot ini Bisa Mencair dan Memadat Kembali, Seperti Terminator!

Robot ini Bisa Mencair dan Memadat Kembali, Seperti Terminator! – Sebuah tim ilmuwan telah berhasil menciptakan robot mini yang memiliki kemampuan untuk mengubah bentuk dari cair ke padat dan sebaliknya, hasil dari penelitian yang menggabungkan sains dan teknologi. Robot velvetmedia.id ini memiliki perilaku yang bisa dikontrol, dapat bergerak aktif untuk lompat, memanjat, serta mengecilkan ukuran karena bersifat magnetis dan dapat menghantarkan listrik. Penemuan ini dianggap mirip dengan robot pembunuh T-1000 dari serial film “The Terminator”, yang bisa berubah bentuk menjadi cair dan melewati berbagai penghalang dengan ukuran sempit, sehingga menjadi lawan yang menyeramkan.

Terinspirasi dari teripang, para insinyur yang merancang robot mini ini ingin memberikan kemampuan robot untuk beralih antara keadaan cair dan padat, sehingga memberikan lebih banyak fungsi. Meskipun robot ini memiliki kelembutan yang tidak dimiliki oleh robot tradisional pada umumnya, namun kelemahannya adalah tidak sekuat dan secepat robot padat dan gerakannya tidak mudah dikendalikan.

Penelitian ini dipimpin oleh Chengfeng Pan, seorang insinyur di The Chinese University of Hong Kong, dan hasilnya telah dipublikasikan di jurnal Matter berjudul “Magnetoactive liquid-solid phase transitional matter” pada 25 Januari 2023. Dengan adanya hasil penelitian ini, para ilmuwan berharap dapat memecahkan beberapa masalah medis dan teknik yang sangat spesifik dengan cara yang lebih praktis.

Sebuah tim insinyur telah mengembangkan robot yang dapat digunakan dalam konteks biomedis dan pembantu perbaikan material. Dalam penerapannya di bidang medis, robot ini dapat membantu dalam pembedahan pasien dengan mengeluarkan benda asing dari perut dan mengirimkan obat ke titik yang sama. Carmel Majidi, seorang teknisi mekanik dari Carnegie Mellon University, mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjelajahi kemungkinan penggunaan robot ini dalam konteks biomedis.

Selain itu, robot ini juga dapat digunakan sebagai penyolder pintar untuk perakitan dan perbaikan sirkuit nirkabel yang sulit dijangkau. Dalam hal ini, robot ini bertindak sebagai solder dan konduktor. Pengembangan robot ini adalah contoh nyata bagaimana sains dan teknologi dapat menghasilkan produk yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam bidang sains dan teknologi, para peneliti terus berupaya untuk mengembangkan robot yang lebih canggih dan multifungsi. Salah satu inovasi terbaru adalah pengembangan robot yang dapat berubah bentuk menjadi ‘sekrup’ mekanis universal untuk merakit komponen sirkuit yang sulit dijangkau.

Untuk mengatasi kekurangan purwarupa robot kecil ini, tim peneliti menggunakan bahan logam galium yang disematkan dengan mikropartikel magnetik kecil yang disebut sebagai mesin transisi fase padat-cair magnetoaktif (MPTM). Partikel magnetik tersebut memiliki dua peran, salah satunya adalah membuat material responsif terhadap medan magnet bolak-balik sehingga material dapat dipanaskan dan menyebabkan perubahan fasa.

Dengan adanya robot ini, diharapkan dapat mempermudah dan mempercepat proses merakit komponen sirkuit yang sulit dijangkau. Inovasi ini menunjukkan betapa pentingnya peran sains dan teknologi dalam mengembangkan solusi yang lebih efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Baca juga: Limbah Padi Indonesia Disulap Menjadi Energi Listrik Berbiaya Rendah

“Partikel magnetik memberikan kemampuan mobilitas bagi robot dan respons terhadap medan magnet,” ungkapnya. Mekanisme ini berbeda dari material pengubah fase yang memerlukan arus panas dan sumber panas lainnya untuk mengubah benda padat menjadi cair. Materi baru ini dapat menawarkan bentuk cair yang lebih encer dibandingkan dengan bahan pengubah fase lainnya yang cenderung lebih kental.

Sebelum mengeksplorasi aplikasi potensialnya, tim melakukan pengujian pada mobilitas dan kekuatan material dalam berbagai konteks. Dengan bantuan medan magnet, robot dapat melompati parit, memanjat dinding, dan bahkan membelah diri menjadi dua untuk secara kooperatif memindahkan objek lain sebelum kembali bersatu.

Dalam video yang ditampilkan, robot berbentuk manusia mampu membentuk dan melarutkan cairan melalui kisi-kisi sebelum kembali ke bentuk awalnya. Saat ini, teknologi sains ini menunjukkan potensi yang besar dan dapat membawa kontribusi besar di masa depan. Anda dapat melihat kemampuan robot tersebut dengan mengeklik tautan ini.

Limbah Padi Indonesia Disulap Menjadi Energi Listrik Berbiaya Rendah

Limbah Padi Indonesia Disulap Menjadi Energi Listrik Berbiaya Rendah – Indonesia mengalami masalah besar dalam hal limbah padi yang dibakar di lahan terbuka setiap tahunnya. Hal ini telah menyebabkan polusi udara yang buruk dan dikaitkan dengan risiko kanker paru-paru.

Namun, para ilmuwan dari Energy and Bioproducts Institute di Aston University melihat masalah ini sebagai potensi untuk menghasilkan energi berbiaya rendah dalam skala komersial. Mereka sedang mengembangkan teknologi konversi biomassa yang disebut pirolisis untuk menangkap energi dari limbah padi.

Proses ini melibatkan pemanasan bahan limbah organik ke suhu tinggi sekitar 500 °C untuk memecahnya, menghasilkan uap dan produk padat. Konsorsium yang terdiri dari Aston University bertujuan untuk menunjukkan bahwa proses ini dapat dilakukan dalam skala komersial. Dalam jangka panjang, sains dan teknologi velvetmedia.id dapat membantu Indonesia mengatasi masalah limbah padi dan mendorong penggunaan sumber energi terbarukan.

Beberapa uap dapat berubah menjadi minyak pirolisis atau minya-bio pirolisis yang dapat diubah menjadi listrik. Saat ini, metode umum hanya bisa mengubah sekitar 35% energi termal jerami padi menjadi listrik yang terjangkau. Namun, teknologi baru dalam bentuk mesin pembakaran yang dirancang oleh Carnot Limited dapat meningkatkan efisiensi menjadi 70%.

Dengan menggunakan teknologi ini, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dapat menciptakan energi yang dihasilkan secara lokal dan berkontribusi pada target net zero tahun 2050. Selain itu, teknologi ini juga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kesehatan penduduk setempat.

Proyek ini dapat membantu mengembangkan model bisnis yang dapat mendukung perusahaan dan otoritas lokal untuk menghasilkan energi lokal yang murah di Indonesia dan negara lain dengan kapasitas biomassa. Dalam sains dan teknologi, terdapat kemajuan yang dapat membantu mencapai tujuan yang lebih baik bagi lingkungan dan masyarakat secara umum.

Tiga ahli akademik dari berbagai bidang ilmu di Aston University terlibat dalam proyek awal yang berfokus pada Pulau Lombok di Indonesia. Para ahli tersebut adalah Jude Onwudili, Muhammad Imran, dan Mirjam Roeder yang berbasis di Energy and Bioproducts Research Institute (EBRI) di Aston University.

Jude Onwudili yang memimpin tim menyatakan bahwa proyek ini memiliki potensi yang sangat besar dalam penerapan sains dan teknologi. Komersialisasi teknologi gabungan ini akan memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Indonesia melalui penciptaan lapangan kerja langsung dan tidak langsung, termasuk rantai pasokan bahan baku serta distribusi dan penjualan listrik.

Sekitar satu juta rumah di Indonesia tidak memiliki akses ke energi, dan 6.000 pulau berpenghuni di Indonesia membuat pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan menjadi sebuah tantangan. Oleh karena itu, teknik-teknik baru yang sedang dieksplorasi dapat mengurangi pencemaran lingkungan, berkontribusi pada net zero, dan yang paling penting, menyediakan akses ke energi yang terjangkau dari limbah pertanian lokal yang berkelanjutan.

Baca juga: Pickatale Ruang Membaca dan Mendengarkan Dongeng Indonesia

Tim proyek telah menghitung bahwa biomassa menghasilkan listrik yang lebih murah (sekitar $4,3$/kWh) dibandingkan dengan tenaga surya (sekitar $6,6/kWh), panas bumi (sekitar $6,9/kWh), batu bara (sekitar $7,1/ kWh), angin (sekitar $8/kWh) dan gas bersubsidi (sekitar $8,4/kWh). Dengan penerapan sains dan teknologi yang tepat, proyek ini berpotensi untuk menjadi solusi yang berkelanjutan dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia.

Proyek di Lombok ini akan dimulai pada April 2023 dengan total dana 1,5 juta euro. Dengan dukungan para ahli sains dan teknologi yang berkompeten, diharapkan proyek ini dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat Indonesia dan berkontribusi pada pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.