50 Juta Database Facebook Bocor

Updated: Apr 20, 2018


Sebanyak 50 juta data personal pengguna Facebook dicuri dan disimpan firma analisis data, Cambridge Analytica. Firma tersebut bekerja untuk kampanye pemenangan Donald Trump pada Pilpres 2016 lalu.


Bukan cuma Cambridge Analytica, data pengguna Facebook juga ada dalam arsip Strategic Communications Laboratories (SCL). Keduanya adalah perusahaan yang berafiliasi.

Cambridge Analytica dan SCL diduga memperoleh data pengguna Facebook dari peneliti pihak ketiga bernama Aleksandr Kogan. Ia bekerja di Global Scicence Research dan kerap menghadirkan survei terkait kepribadian yang tersebar masif di Facebook.


Robert Mercer sebagai salah satu mantan pegawainya menguak bahwa perusahaan itu mungkin melakukan kecurangan dalam informasi. Ia membocorkan bahwa data jutaan user Facebook dikoleksi melalui aplikasi "thisisyourdigitalife", buatan akademisi Cambridge University. Kemudian Cambridge Analytica berkolaborasi dengan Global Science Research, pada awalnya ratusan ribu user dibayar untuk melakukan tes kepribadian di Facebook dan setuju data mereka dikumpulkan untuk kepentingan akademis. Namun aplikasi itu ternyata juga mengambil data teman-teman Facebook peserta tes, sehingga akumulasinya mencapai puluhan juta data. Dan dibalik itu ternyata tujuannya bukan untuk akademis tetapi memenangkan kampanye politik.


Siapa saja yang mengunduh aplikasi itu secara tak sadar dan sukarela menyerahkan data personal mereka, apa yang mereka suka, di mana mereka tinggal, serta siapa saja teman mereka.

Facebook telah menangguhkan Cambridge Analytica, SCL, Kogan, serta Christopher Wylie. Wylie adalah pembisik alias whistleblower yang mengungkap kebocoran dan penyalahgunaan data 50 juta pengguna Facebook ke media massa.


“Kami terus menyelidiki untuk melihat tingkat akurasi dari klaim-klaim ini. Jika benar, ini adalah kejahatan yang tak termaafkan,” kata Vice President dan General Counsel Facebook, Paul Grewal.


Sumber dalam mengatakan, data personal pengguna Facebook masih bisa diakses di database internal Cambridge Analytical pada 2017 lalu. Padahal, SCL telah berjanji ke Facebook dan pegawai Cambridge bahwa semua data itu telah dihapus pada 2015 lalu. 

Kumpulan data pengguna yang penting, kata sumber dalam, dimasukkan ke database bertajuk “Kogan-import”. Yang bisa mengaksesnya hanya sebagian kecil pegawai Cambridge Analytical dan SCL, yakni bagian data science, engineering, dan IT.


Dari 50 juta data pengguna Facebook yang berceceran di tangan pihak ketiga, 30 di antaranya sudah lengkap untuk profiling seseorang. Jika sudah begitu, privasi pengguna tak lagi menjadi privasi.



Kabar lainnya adalah mantan Co-Founder Whatsapp membuat hashtag #deletefacebook di twitter untuk 22.000 followersnya melihat hal itu. Facebook mengakuisisi WhatsApp sebesar $ 19 miliar pada tahun 2014. Co-founder WhatsApp lainnya, Jan Koum, masih memimpin perusahaan dan duduk di dewan Facebook.  Acton tetap bersama perusahaan selama beberapa tahun sebelum berhenti untuk memulai Signal Foundation awal tahun 2018 ini.  


#VelvetNews #VelvetTechnology #VelvetLifestyle

#facebook #deletefacebook #whatsapp #donaldtrump #cambridgeanalytica #database #pencurian #kecurangan

About Us | Privacy Policy | Term and Conditions | FAQ | Partnership

  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • instagram_logo_white