Ali The Beat, Mencintai Passion Seperti Mencintai Orang Tua

Updated: Dec 20, 2019

Bagi pecinta dunia malam, terutama yang bekerja di industrinya sudah pasti tidak asing lagi melihat jurnalis yang satu ini. Belasan tahun mendedikasikan hidupnya demi menulis berita-berita tentang industri entertainment di Indonesia, terutama industri EDM (Electronic Dance Music). Ia bisa dibilang jurnalis nomor 1 di dunia dance scene Indonesia. Ingin tahu perjalanan hidupnya yang sangat berintegritas ini?



Budi Al Yasin, biasa dikenal dengan nama Ali The Beat. Dia adalah seorang pengamat lantai dansa yang lahir di Jakarta 22 October pada tahun yang “immortal / highlander”. “Tolong umurnya ditulis unlimited aja”, kata Ali dengan tertawa. Ali adalah seorang lulusan Kampus International Hotel School di Jakarta, jurusan Food & Beverages.


Selain jurnalis, dia juga sering kali menjadi juri di hampir semua kompetisi DJ di Indonesia dari sudut pandang media profesional yang membahas dunia dance scene.


Ketika masih menjalani pendidikan SMA, dia fokus di band. Bahkan, dia sempat belajar di Yamaha Drum School pada tahun 80an. Karena memang Ali adalah seorang penyuka musik, dia banyak mencoba hal-hal yang berhubungan dengan musik. Dimulai dari menjadi drummer pada waktu SMA, breakdance, dan yang menjadi titik awal ketertarikannya di dunia lantai dansa adalah ketika ia datang ke sebuah club bernama Ebony dan mendengar penampilan dari DJ Jockie Saputra dengan genre yang sekarang kita sebut dengan genre classic disco.


Setelah moment tersebut, Ali mulai keluar masuk club, mulai eksplor lagu-lagu DJ. Ia pernah masuk ke salah satu label di daerah “kota”, yaitu HotMix – yang pada akhirnya disebarluaskan hingga ke “selatan”. Dilabel tersebut, dia belajar memproses sebuah lagu, dari memixing sebuah lagu hingga memproduksinya. Setelah HotMix disebarluaskan ke selatan, label tersebut berhasil memproduce lagu bersama DJ yang sekarang menjadi kelas papan atas seperti Winky, Naro, dan Romy. Ali sempat belajar untuk menjadi seorang DJ – bahkan ia sempat belajar mixing lagu dengan pita kaset. Dan setelah masuk era turn table, Ali sempat menyerah karena harganya yang mahal. Saat itu, turn table adalah barang mewah. Harga satu platnya bisa mencapai Rp.100,000,- pada zaman tahun 90-an. Karena itu, ia sempat bimbang untuk meneruskan profesi menjadi DJ, sekedar berlatih menumpang ditempat temanpun sangat susah karena mewahnya barang tersebut sehingga sangat jarang yang mempunyai barang tersebut di zaman itu. Akhirnya ia berkeputusan untuk mengawasi DJ dan sempat menjadi “pengemis” guestlist. Saat itu, ia bertekad akan membalas jasa ke mereka yang memberikan guestlist tersebut kepadanya. Pada tahun 95, 96 ia sangat fokus untuk mengeksplor dunia dance scene – bahkan termasuk pengaruhnya scene tersebut kepada drugs.



Pada tahun 2000, ia sempat galau tentang karirnya – apakah lanjut DJ-ing, lanjut menjadi EO (Event Organizer), atau apa. Kemudian, tidak jauh dari kegalauannya itu ia sempat memperhatikan 2 orang yang sering ia temui di club. 2 orang tersebut sering kali membawa-bawa majalah ke club. Kemudian pada tahun 2001 pertengahan, pada saat ia bertemu kedua orang tersebut di club dan ia membaca majalahnya. Ketika membaca majalah tersebut ternyata pada halaman terakhir ada lowongan kerja untuk menjadi reporter! Yap, majalah tersebut adalah majalah The Beat yang menjadikan ia pengamat lantai dansa yang sangat berdedikasi hingga saat ini.



The Beat berdiri pertama kali pada tahun 2001 di Bali. Ketika ia melamar, ia sempat bingung karena ia tidak ada background jurnalis sama sekali. Tapi, ternyata pertanyaan yang ditanyakan kepada Ali adalah “Sering ga keluar masuk party?” sudah pasti jawabannya adalah “iya”. Sebelum menjadi karyawan resmi, Ali diberi kesempatan untuk membuktikan dirinya menjadi reporter. Tulisan pertamanya adalah “DJ Sander Kleinenberg di Grand Manhattan”. Setelah direview dan dibahas oleh team majalah The Beat, pada akhir tahun 2001 tekadnya untuk membalas budi kepada mereka para pemberi guestlist sangat terbalaskan ketika ia resmi gabung di The Beat. Bahkan dengan bangganya, kedua orang yang sering ia temui di club itu menjadi sahabatnya. Lebih bangganya lagi, seiring jalannya waktu kedua orang tersebut banyak bertukar ilmu kepada Ali mengenai lantai dansa di Indonesia.


Team The Beat sempat mempertanyakan keeksisan Ali di lantai dansa. Jurnalis The Beat lainnya sering foto-foto di club, tapi kenapa tidak ada Ali? Dengan pengalaman yang mengagumkan tersebut dia mengatakan bahwa dia memang tidak ada di lantai dansa, tapi dia ada di DJ booth, jongkok, memperhatikan DJ berganti plat dan teknik masing-masing DJ.



Pada era 2000 awal tersebut, club masih sangat sedikit. Hal itu mulai berubah sejak scene di club Parkit. Karena permainan DJ Anton Wirjono dan DJ Donny (almarhun), mereka merubah dance scene karena permainannya yang unik. Mereka memainkan lagu dengan genre house yang berbeda. Di Parkit, setiap hari Jumat memainkan genre Trance – DJ Donny (almarhum) menjadi closing dan acara dibuka oleh permainan dari DJ Riri Mestica. Sabtunya, mereka menampilkan DJ Anton Wirjono dengan memainkan genre housenya yang unik. Hebatnya, Ali mengatakan bahwa orang-orang yang sering ia lihat di lantai dansa paling depan pada saat itu, banyak yang terinspirasi oleh mereka dan menjadi DJ – bahkan ada yang bertahan dan sukses hingga saat ini. Dance Scene di “kota”pun juga mengalami banyak perubahan dari saat itu hingga sekarang.


Ali di The Beat tidak hanya menggali musik, dia mempererat komunitas juga. Belajar dari refrensi ketika ia di label HotMix, pada era keemasan majalah The Beat – majalah itu menjadi satu-satunya majalah yang membahas dance scene tetapi netral antara scene di “selatan” dan “kota” berkat Ali. Dengan kehebatannya dia dunia jurnalis, ia berhasil membuat The Beat menjadi majalah yang menjembatani kedua kutub tersebut.



Kesan Ali terhadap dunia dance scene di Indonesia adalah sangat menarik! Dia menggambarkan dance scene sebagai food court. Zaman dulu, orang tahu apa makanan yang ingin dimakan karena mereka memang menyukai makanan tersebut. Tapi sekarang, dengan banyaknya pilihan makanan di food court, orang jadi ingin mencoba segala makanan yang ada. Sama seperti dance scene sekarang yang sudah bisa dinikmati segala kalangan dan usia. Selain itu, adanya pro dan kontra yang membuat scene ini semakin menarik untuk didalami. Ali mengatakan EDM bukanlah Electronic Dance Music, tetapi “Evolution of Dance Music”.


Pesan Ali kepada para pecinta dance scene adalah “harus banyak minum air putih. Passion is everything. Mencintai segala sesuatu ga pake passion, ga bisa. Passion membungkus cinta”.


Setelah membahas kisahnya yang sangat menarik, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana dia melakukan itu semua? Ali menjawab dengan bijak bahwa ketika kita mencintai sebuah profesi, maka profesi itu akan membalas rasa cinta kita. Seperti dirinya yang mencintai dance music sekaligus mengurus orang tuanya yang sangat dicintainya, ia seperti mengurus “mother of dance scene”. Kita harus bertanggung jawab akan kehidupan di profesi tersebut, bahkan kehidupan si-profesi itu.



Ali sangat mengagumi Bens Leo sang jurnalis musik yang sangat handal. Ia mengatakan ibarat anak kecil tidak lepas dari Kak Seto, dunia jurnalis juga tidak bisa lepas dari Bens Leo. Guru sekolahpun juga sangat dikaguminya. Seperti seakan-akan bersifat abadi. Walaupun kita pada waktu SD dididik oleh mereka, ketika kita sudah dewasa dan bertemu kembali guru SD kita, beliau tetap menjadi sebuah sosok “guru” bagi kita. Kak Seto juga salah satu figur yang dikagumi Ali untuk menjadi inspirasi karena Kak Seto sangat mencintai dunianya.


Passion is everything

#VelvetNews #VelvetFigure

#jurnalis #theBeat #alithebeat #edm #dancescene

About Us | Privacy Policy | Term and Conditions | FAQ | Partnership

Copyright © 2020 Velvet. All Right Reserved. Indonesia

  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • instagram_logo_white